Hallo,
Saya ingin berbagi pengalaman dan persfektif saya terkait kehidupan organisasi kampus yang mengubah saya menjadi pribadi yang lebih baik.
Selama saya kuliah, saya cukup aktif di organisasi kemahasiswaan kampus. Saya mengawali perjalanan saya dengan mengikuti salah satu program pengembangan kepimpinan yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Universitas. Awalnya, saya sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti BEM selama berkuliah. Alasannya sederhana, saya tidak memiliki minat dan ketertarikan di BEM.
Untuk teman-teman yang tidak tahu apa itu BEM. Badan Eksekutif Mahasiswa adalah organisasi mahasiswa intra kampus yang merupakan lembaga eksekutif di tingkat pendidikan tinggi yang dipimpin oleh seorang Presiden Mahasiswa atau Ketua BEM. Dalam melaksanakan program-programnya, umumnya BEM memiliki beberapa kementerian atau devisi.
Hari itu, salah seorang teman saya memberikan infromasi terkait program pengembangan kepemimpinan yang diadakan oleh BEM. Dengan semangat yang menggebu-gebu teman saya ini menjelaskan keuntungan yang akan kami dapatkan jikalau kami mengikuti program tersebut. Sejatinya saat itu, saya sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti program tersebut. Walau banyak hal yang bisa saya dapatkan disana. Namun, semua teman-teman terdekat saya saat itu mengikuti program tersebut. Karena saya tak ingin sendirian dan tidak melakukan apapun. Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, saya memilih ikut bersama mereka. Yup... istilah sederhananya saya hanya ikut-ikutan teman saja :)
| Sumber: hipwee.com |
Program dari BEM tersebut berlangsung selama kurang lebih 3 hari dengan 2 hari adalah teori di dalam ruangan dan 1 hari outbound. Hari pertama saya dan teman-teman tidak dapat menghadiri program teori tersebut. Saya dan teman-teman berhalangan dikarenakan ada urusan di jurusan yang mengharuskan datang. Hari kedua, saya duduk berdampingan dengan teman-teman saya. Agendanya adalah mendengarkan pemateri membahas dan mengupas salah satu topik yang telah ditentukan. Selama acara berlangsung, saya yang memang sedari awal tak terlalu niat mengikuti program ini justru malah memanfaatkan momen tersebut sebagai tempat saya membuat menyicil laporan pratikum saya. Selama acara, saya tidak mendengarkan apa yang disampaikan. Saya fokus pada laporan pratikum yang saya cicil. Sesekali saya tetap melihat pemateri dan moderator, namun lebih banyaknya saya tenggelam dalam laporan yang saya bawak.
Hari terakhir, saya mengikuti outbound yang diadakan di salah satu pantai di padang. Pagi itu, saya datang bersama teman-teman saya untuk kumpul di dekat masjid kampus. Kami lalu dibagi kelompok dan kebetulan saya tidak sekelompok dengan teman-teman terdekat saya. Kami diberikan challenge untuk sampai di pantai tanpa menggunakan transportasi pribadi. Setiap kelompok langsung menyusun strategi guna sampai ke pantai, termasuk kelompok saya. Saat itu kami diberikan modal perkelompok sebanyak Rp.5000. Well, jikalau kami naik angkot-pun modalnya akan kurang karena satu tim terdiri dari 5 orang. Ketua tim saya pada saat itu menyarankan kami "menumpang" dengan bus Padang. Saya tidak terlalu memperhatikan bagaimana lobi-lobi ketua tim saya pada saat itu, hingga akhirnya kami diperbolehkan untuk "menumpang". Ingatan saya juga samar-samar apakah kami menambah uang modal transportasi kami dengan uang pribadi atau tidak, yang jelas pada saat itu tim saya mendapatkan keuntungan untuk menghemat pengeluaran. Singkat cerita, outbound di Pantai sangat mengasyikan dan memorable bagi saya. Saya yang awalnya tidak tertarik, namun saat mengikuti outbound, saya mulai menikmati program tersebut.
Setelah selesai outbound ternyata kami diberikan kesempatan untuk magang di BEM. Saat itu, saya tidak tahu harus magang dimana. Saat pengenalan kementerian di hari pertama saya sama sekali tidak datang dan tidak tahu apapun terkait organisasi kemahasiswaan tersebut. Beberapa teman-teman saya sudah memutuskan untuk masuk ke kementerian yang mereka minati. Salah seorang teman saya mengusulkan agar kami "silahturahmi" ke sekre BEM saat itu dan coba lihat-lihat lingkungannya. Hingga akhirnya kami sampai di sekre. Kami disambut hangat dengan senior yang ada di sekre. Sesuatu yang mengejutkan bagi saya saat itu karena saya jarang mendapati ada senior yang menyapa junior. First impression yang bagus, saya semakin tertarik dengan BEM. Hari itu kami berdiskusi bersama, tidak ada batasan dan jarak antara senior dan junior. Kami disambut hangat dan berdiskusi bersama. Saya bahkan beberapa kali mengajukan pertanyaan pada saat itu. Satu hal yang dapat disimpulkan saat itu, saya suka lingkungannya dan saya tertarik untuk menjadi bagian dari mereka.
Saya dan teman-teman saya menyerahkan berkas magang sehari setelah kami "silahturahmi" ke sekre BEM. Saya memilih kementeterian luar negeri saat itu. Sedangkan teman-teman saya memilih kementerian yang berbeda. Setelah menyerahkan berkas, kami diminta untuk membuat janji wawancara dengan menteri pada kementerian yang bersangkutan.
Beberapa hari berlalu, dan kini saya harus kembali ke sekre guna melaksanakan wawancara. Sejujurnya saya cukup gugup menghadapi wawancara karena itu merupakan wawancara pertama bagi saya. Namun, menteri yang mewawancarai saya saat itu ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Beliau alih-alih mewawancarai lebih seperti mengajak saya diskusi. Memang benar, diawal saya sempat ditanya-tanya terkait diri saya, pengalaman, minat, dan prestasi selama SMA. Namun, pembahasan ternyata berlanjut pada diskusi yang beliau buka. Saya lebih rileks dan dapat menyesuaikan pembahasan. Bahkan, mungkin kami menghabiskan waktu lebih lama diskusi. Kebetulan beliau sosok yang gemar membaca dan memiliki pengetahuan yang luas. Besoknya, beliau mengabari saya untuk mengikuti konsolidasi yang diadakan di salah satu kampus di Padang. Awalnya agak kaget, karena saya tidak menyangka akan diajak dan diberikan kesempatan secepat itu. Namun, berbekal rasa penasaran saya pergi ikut bersama rombongan.
Singkat cerita saya diterima di kementerian luar negeri sebagai salah seorang anak magang. Hari-hari yang saya lalui sebagai anak magang ternyata tidak sesibuk yang saya bayangkan. Saya cukup sering menghadiri konsol (sejenis pertemuan untuk membahas sesuatu) baik di dalam maupun di luar kampus. Saya banyak belajar dari menteri saya, bukan hanya tentang kehidupan namun juga tentang politik kampus. Saya menyadari bahwa struktur hirarki yang berada di kampus tidak luput dengan "politik kampus". Saya tidak tahu apakah saya boleh menjelaskan ini secara gamblang, yang pasti pembicaraan terkait politik kampus menjadi rahasia umum. Menarik untuk ditelisik. Saya menggambarkan politik kampus sebagai "pola" permainan dalam berpolitik di kampus. Saya yakin setiap kampus punya "pola-nya" sendiri. Menteri saya kala itu menyadarkan saya betapa dekatnya saya dengan politik kampus. Sejujurnya, politik kampus itu cukup seru untuk "dinikmati" tapi saya sama sekali tidak tertarik untuk menjadi "lakon" didalamnya. Saya memutuskan untuk menganggap politik kampus sebagai pengetahuan dasar yang harus saya miliki karena saya bergabung di lembaga pergerakan kampus. Namun sama sekali tidak tertarik untuk aktif didalamnya.
Bulan berganti bulan dan kepungurasan pun berganti. Saya memutuskan lanjut di kementerian yang sama. Tahun kedua di BEM dan saya menyadari bahwa kapsitas saya bukan lagi sebagai anak magang melainkan sebagai staf ahli. Saya menjalankan banyak tugas yang sebelumnya tak pernah saya jalankan sebagai anak magang. Selain itu, saya bertemu dengan orang-orang baru yang kini menjadi rekan tim saya. pandangan baru, pengetahuan baru, dan tantangan baru.
Hanya selang beberapa bulan setelah kepengurusan baru dilantik. Wabah covid-19 datang menghantui. Semua rencana yang kami susun dengan baik harus rela dilupakan begitu saja. Masa transisi offline ke online membuat satu kampus frustasi. Hal ini sangat dirasakan dampaknya oleh anak-anak yang terlibat dalam organisasi mapun unit kegiatan kampus. Culture shock kalau bahasa gaulnya. Namun, life must go on right? kami coba berdamai dan menyusun eskalasi secara online.
| Sumber : gemakeadilan.com |
Disini saya tak ingin memfokuskan ceritanya pada kinerja kami melainkan pada internal kementerian. Saat saya menjadi anak magang, saya tak begitu diberikan gambaran terkait bagaimana management internal or something like that namun saya tahu bahwa ada beberapa cela terkait internal kemenlu yg saya tangkap selama saya megang. Saat menjadi staf dan terlibat langsung dalam internal kementerian. Akhirnya saya menyadari bahwa management people itu sulit, sulit sekali. Memberikan semangat untuk tetap bisa produktif itu hal yang mudah. Namun mempertahankan semangat anggota ternyata bukan perkara mudah. Retorika organisasi katanya. Bahwa hal yang wajar, jika seseorang begitu semangat hingga menggebu-gebu diawal lalu layu diakhir.
Periode kedua saya berkecimpung di BEM saya menyadari bahwa tidak ada yang namanya superman, yang ada adalah supertim. Pada dasarnya manusia tidak bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Namun, segala sesuatu yang dilakukan bersama akan terasa lebih ringan. Kekuatan internal ternyata mempengaruhi bagaimana komunitas itu menginterpretasikan dirinya ke eksternal. Mungkin mudah bagi kita menyembunyikan masalah internal alih-alih menyelesaikannya. Namun, keretakan di internal tentu akan membawa dampak yang besar bagi suatu komunitas.
| Sumber : mutiaramutusertifikasi.com |
Jika ditarik garis lurus terkait permasalahan internal maka kesimpulan yang cocok untuk menjawab permasalahan tersebut adalah komunikasi. Sangat sederhana namun sulit dilakukan. Komunikasi memegang peranan penting dalam tim work. Bagaimana sebuah ide dapat diinterpretasikan, bagaimana eksekusi yang baik, hasil, dan evaluasi terkait apa yang telah dilakukan. Semua hal tersebut sangat bergantung dengan bagaimana kita berkomunikasi dengan anggota tim. Komunikasi itu ibarat pisau bermata dua. Komunikasi dapat menyatukan anggota tim, namun juga dapat memecah anggota tim.
Seiring berjalannya waktu, ternyata kami bisa survive terhadap pandemi yang berlangsung. Pelan-pelan bangkit. Hingga akhirnya periode berakhir, walau banyak evaluasi yang dijadikan PR kepengurusan mendatang namun saya cuku puas dengan apa yang telah kami laksanakan dibalik keterbatasan kami kala itu. Tiada guna menyesal, itu yang selalu saya patri dalam diri saya. Bahwa semua yang terjadi hendaknya menjadi pembelajaran bagi saya dikemudian hari.
| Sumber : mediamahasiswa.com |
Ketika saya selesai dengan tanggung jawab di perideo kedua ini. Saya menyadari adanya perubahan dalam diri saya. Saya menjadi pribadi yang baru. Seseorang yang tak saya sangka akan ada dalam diri saya selama saya menempuh pendidikan di Universitas. Saya banyak belajar, banyak mendengar, banyak berdiskusi, dan banyak bersuara. Ternyata benar yang dikatakan orang-orang, organisasi mungkin tidak menambah pundi-pundi keunganmu. Namun meningkatkan soft skills mu. Perubahan yang saya rasakan setelah saya bergabung kedalam organisasi kemahasiswaan antara lain : kemampuan komunikasi, kemampuan negoisasi, dan kemampuan interpersonal.
Yang awalnya jadi pelarian justru terasa seperti rumah sendiri, yang awalnya tak ingin bergabung justru merasa nyaman, yang awalnya tidak kepikiran akan berproses seperti ini justru bersyukur karena takdir membawa saya kesini. Bak kata orang bijak "Takdir tak pernah salah memilih".
Que Sera- Sera
Whatever Wiil Be Will Be
The Future Not Ours To See
(Que Sera-Sera | Doris Day)
#TheJourneyOfLife


