[Review Buku] Laut Bercerita - Leila S. Chudori



Judul : Laut Bercerita

Nama Penulis : Leila S. Chudori

Tahun Terbit : Cet ke-56, Januari 2023

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman : 379 Halaman

Harga Buku : Rp. 115.000 (gramedia.com)

ISBN : 978-602-424-694-5

Rating : 5/5 🌟

Leila Salikha Chudori adalah penulis dan kritikus film Indonesia. Namanya dikenal karena cerita pendek, novel, dan skenario drama televisi. Leila adalah salah satu sastrawan yang mulai menulis sejak kecil.

Cerita dibuka oleh prolog yang menampilkan pemeran utama dalam keadaan mata dibebat dan tangan diborgol. Digiring ke suatu tempat yang tidak ia ketahui. Setelah lebih dari sejam di mobil dan berjalan kaki. Tercium aroma asin laut dan terdengar deburan bunyi ombak yang datang dan pergi. Setelah berbulan-bulan disekap di tempat yang gelap. Diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disentrum agar mendapatkan jawaban dari satu pertanyaan penting yang selalu diajukan: 

"Siapa yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu?"

Sementara itu, di sisi lain. Keluarga Arya Wibisono tengah memasak bersama di minggu sore. Memasak makanan kesukaan Biru Laut. Ada masing-masing satu piring di atas meja makan keluarga Wibisono. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul. 

Dua tahun berselang, Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekan dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Para orang tua, istri, dan kekasih aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka.

Novel peraih S.E.A Write Award 2020 ini mengisahkan perjalanan Biru Laut dalam memperjuangkan kebebasan demokrasi di Indonesia pada era Orde Baru. Selain itu, novel ini juga mengisahkan tentang keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasaka kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makam anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur. 

Alur cerita yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju-mundur. Ada dua sudut pandang yang digunakan dalam novel ini yaitu, sudut pandang Biru Laut dan sudut pandang Asmara Jati. Dengan menghadirkan dua sudut pandang dalam satu buku penulis menyajikan dua perspektif kisah dari pihak aktivis maupun keluarga yang ditinggalkan. Hal ini, memperkaya pandangan pembaca dalam menyimak kisah tersebut. Selain itu, penggunaan dua sudut pandang dalam novel ini juga menciptakan konflik internal dan eksternal yang lebih kuat dalam cerita. Pengembangan karakter dalam cerita ini digambarkan dengan elok oleh penulis. Memperkuat narasi cerita. 

Kelebihan novel ini selain terletak pada tema kisah yang diusung, gaya bahasa dengan tingkat kesusastraan yang lebih puitis menjadi daya tarik tersendiri dalam novel ini. Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini penuh perhatian, struktur naratifnya lebih komplek dari novel-novel populer lainnya. Mungkin juga, gaya bahasa yang digunakan pada novel ini berhubungan dengan latar waktu yang digunakan. Tapi apapun itu, bagi saya gaya bahasa dalam novel ini pas. Walau suasana cerita dibangun oleh narasi puitis namun tetap ringkas dan padat. 

Saya juga ingin mengapresiasi perancang sampul novel ini. Sampul pada novel ini sangat bermakna dan mewakili isi dari novel. Saya suka konsep sampul dan permainan warna yang digunakan sehingga menambah keindahan novel secara visual. 

Kekurangan dari novel ini adalah penggambaran aksi 1998 itu sendiri. Ada beberapa kejadian yang alurnya dipercepat. Suasana horror yang terjadi pada aksi 1998 justru tidak terlalu dipaparkan. Padahal, puncak kegiatan Laut dan teman-temannya bermuara pada aksi 1998. Selain itu, saya rasa, penggambaran kisah asmara antara Laut dan Anjani masih terlalu dangkal. Tapi disisi lain, perkembangan hubungan mereka berjalan sangat cepat. Di sini terkesan kontradiktif.

Kesimpulan saya, novel ini cocok bagi kalian yang menyukai novel dengan tema yang tak lazim. Atau kalian penyuka gaya bahasa dengan tingkat kesusastraan yang lebih puitis dari novel-novel populer pada umumnya. Novel ini bukan novel historical-politic yang berat. Justru, jikalau boleh saya klasifikasikan, novel ini bukan novel historical-politics. Walau tema yang diusung dalam novel ini berlatar kebebasan. Meski begitu, latar waktu dan tema dalam novel ini, menjadi pintu bagi pembaca untuk melihat bagaimana tersiksanya pembungkaman paksa. 

Berikut saya tampilkan cuplikan dalam novel ini yang menggelitik saya:

Kita harus belajar kecewa bahwa orang yang kita percaya ternyata memegang pisau dan menusuk punggung kita. Kita tidak berharap semua orang akan selalu loyal pada perjuangan dan persahabatan - Hal 30.


Terima Kasih Telah Membaca ^_^ 

0 comments