[Cerpen] Senandung Angan Permata Permai




Wahai Permata Permai, mengapa engkau merenung? Tak kulihat cahaya kehidupan di matamu.  

Wahai Permata Permai, mengapa engkau terdiam? Tak kudengar nyanyian surgawi keluar dari mulutmu.  

Wahai Permata Permai, mengapa engkau tumpukan sayapmu di depan? Tak kulihat kepakan indah dari sayapmu.  

Wahai Permata Permai, mengapa tak kau habiskan hidangan lezat di depanmu?


Itu adalah sederet pertanyaan yang diutarakan kepadanya. Permata Permai, begitu temannya memanggil si burung nan cantik bersuara merdu. Hidupnya bak seorang putri di istana. Sangkar berlapis emas kediamannya. Permata Permai tak pernah kekurangan. Sangkar emasnya besar dan selalu dibersihkan setiap beberapa kali seminggu. Semerbak wangi lavender menguar dari sangkar emasnya. Hidangan lezat yang selalu datang tepat waktu. Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan, wahai Permata Permai? Setidaknya itulah yang ada dalam benak Chip si Tupai.  


Permata Permai melirik Chip yang sibuk menggapai hidangannya. Perlahan, Permata Permai turun dari tempat singgahnya dan mendekati Chip yang sedang berjibaku dengan dirinya sendiri. Chip pun tersenyum konyol.  


Permata Permai berinisiatif menggotong hidangan miliknya ke hadapan Chip. Melihat hal itu, sontak Chip semangat bukan kepala. Matanya memancarkan binar penuh pengharapan.  


"Apakah boleh untukku, Permata Permai?" tanya Chip berharap. Ah Chip, bahkan rumput yang bergoyang pun tahu ke mana arah matanya.  


Permata Permai mengangguk lemas. Chip tak sadar akan hal itu. Dengan semangat, Chip menggotong semua hidangan Permata Permai ke sarangnya yang lusuh. Pohon tempat Chip membangun sarang tepat berada di depan ruangan tempat sangkar emas Permata Permai bersemayam. Ranting pohonnya menjalar mengenai jendela lantai dua. Tak jauh dari jendela itulah sangkar Permata Permai ditempatkan. Permata Permai menatap Chip bolak-balik mengangkut hidangan miliknya dengan lincah dengan tatapan tak biasa. Hingga hidangan terakhir, Chip yang hendak berterima kasih mengangkat kepalanya. Tersentak oleh ekspresi Permata Permai yang kosong.  


"Wahai Permata Permai, menyesalkah kau memberikanku hidanganmu?" tanya Chip hati-hati.  


Permata Permai menggeleng pelan.  


"Lantas... mengapa kau..." Chip mengambil jeda sebelum melanjutkan, "...bersedih?" tanya Chip lebih hati-hati lagi.  


Permata Permai menghela napas. "Bersedihkah aku di pandanganmu, Chip?" tanya Permata Permai dengan lirih.  


Chip mengangguk. "Bahkan rumput yang bergoyang pun dapat melihat itu dari wajahmu, Permata Permai."  


Permata Permai menghela napas. "Kadang kala termenung aku terpikir akan kebebasan." Permata Permai menatap Chip. "Bagaimana rasanya jadi dirimu, Chip?" 


Chip sontak kaget menggeleng dengan keras.  


"Tak ada yang nikmat, wahai Permata Permai. Aku harus berjuang mencari makanan. Sedangkan kau hanya perlu menunggu. Tidak ada yang seberuntung dirimu, wahai Permata Permai."  


Permata Permai mengadah ke atas langit melihat kawanan burung terbang di langit.  


"Tapi kau dapat melihat dunia," lanjut Permata Permai lirih.  


Chip bingung apa enaknya melihat dunia.  


Dunia terlihat biasa saja di mata Chip. Tidak ada yang spesial. Yang spesial hanya martabak. Itu kata segerombolan pemuda yang berjalan melintas di bawah pohonnya tempo lalu.  


Chip menatap kedua bola mata yang sendu itu lantas dengan bijak berujar. "Wahai Permata Permai, tak usahlah kau lihat hidup makhluk lain. Hidupmu kini sudah sangat indah," hibur Chip.  


Permata Permai mengindahkan kalimat Chip. Ah tahu apa dia tentang perasaan Permata Permai. Bahkan manusia pun akan meronta jika hidupnya bagai Permata Permai.  


"Chip, aku kosong." Permata Permai menatap lurus ke depan. Tatapan itu bukan hanya berisikan kekosongan tapi juga kehampaan. Ada yang hilang dari matanya. Ada sedih yang tak terucap. Ada jiwa yang mengeras.  


Chip mengernyitkan dahinya. Apanya yang kosong? Mulut Chip setengah terbuka ingin menyampaikan sesuatu, namun urung ia lakukan. Chip mengusap pelipisnya. Canggung karena ia tak paham maksud Permata Permai.  


Bahkan kesedihan teman terdekatmu tak dapat kau artikan.  


"Hatiku," sambung Permata Permai.  


Permata Permai menatap Chip dengan lekat tapi sayu. "Hatiku yang kosong, Chip." Barulah Chip menyadari adanya kekosongan di mata Permata Permai. Sesuatu yang tak ia pahami.  


Diam dan hening. Baik Chip maupun Permata Permai tenggelam dalam pikiran. Chip tak ingin begini. Chip merasa Permata Permai salah paham akan makna kebebasan. Tidak ada yang menarik, justru bukanlah setiap makhluk mendambakan posisi Permata Permai. Istilahnya tinggal ongkang-ongkang kaki saja. Segala kebutuhan sudah ada yang menyiapkan. Bukankah itulah surga dunia yang sebenarnya.  


Dengan penuh tekad, Chip ingin menyadarkan Permata Permai bahwa hidup yang kini ia jalani adalah impian banyak makhluk hidup di luar sana.  


"Wahai Permata Permai," panggil Chip.  


"Aku tak tahu bagaimana perasaanmu dan kau pun tak tahu bagaimana perasaanku." Chip berhenti sejenak menunggu reaksi Permata Permai.  


"Bagaimana jika kita saling berbagi perasaan? Kau ceritakan bagaimana rasanya jadi Permata Permai dalam sangkar emas ini. Dan aku akan ceritakan bagaimana rasanya jadi tupai kumuh ini. Bagaimana?" putus Chip.  


Chip yakin setelah mendengar ceritanya, Permata Permai akan berubah pikiran. Toh memang tidak seindah itu kok. Chip saja ingin ada di posisi Permata Permai. Berdiam diri menunggu hidangan selalu bersih dan wangi. Aduhai siapa pula yang tak ingin hidup begitu, pikir Chip.  


Mata Permata Permai mulai menunjukkan ketertarikannya.  


"Aku setuju. Bagaimana cara kita memulainya, Chip?" Permata Permai mulai semangat bukan untuk menceritakan kisahnya tapi untuk mendengar petualangan Chip.  


"Mana yang ingin kau lakukan wahai Permata Permai, bercerita atau mendengarkan?" Chip memberikan tawaran.  


Dengan semangat Permata Permai berujar, "Aku ingin mendengar ceritamu, Chip," penuh binar.  


Chip meringis pelan bingung hendak memulai dari mana.  


"Aku hidup di pohon itu," tunjuk Chip ke pohon di seberang jendela kamar. "Tidak seindah sangkar indahmu. Tapi cukup bagiku."  


Chip mengambil ancang-ancang duduk di hadapan Permata Permai. Hanya jeruji besi sangkar emas Permata Permai yang menjadi penghalang mereka.  


"Tak ada yang istimewa dalam keseharianku, wahai Permata Permai. Aku menghabiskan waktuku untuk pergi mencari makanan. Kadang mengais sisa makanan dari tong sampah tuanmu. Kadang mencari buah di kebun milik manusia gendut di seberang sana." Tunjuk Chip pada rumah warna kuning di seberang sana.  


"Kau tahu, Permata Permai? Aku sering ditumpuk pakai sandal. Padahal yang aku ambil tidaklah sebanyak buah yang busuk," ujar Chip sambil menggerutu. Sebal jika mengingat kejadian tersebut. Manusia memang begitu pelit. Tidak ingin berbagi. Hanya tuan Permata Permai lah manusia yang paling baik menurut Chip.  


Permata Permai tersenyum tipis.  


Chip menengadah mengingat-ingat rutinitasnya.  


"Kadang juga aku mampir ke sini untuk sekadar bertegur sapa denganmu." atau berharap sedikit hidanganmu, tambah Chip dalam hati. 


“Hidupku penuh ketidakpastian. Ada kalanya makanan yang dikumpulkan banyak, ada kalanya sangat sedikit hingga aku ingin menyerah saja. Selain itu seringnya saat aku tengah bekerja, ada perasaan was-was yang bergejolak di hati. Beberapa kali aku harus menghindari kucing demi menjaga diriku. Kau tahu, kucing suka tupai untuk dijadikan mainan.” Chip bergidik membayangkan bagaimana para kucing mengejarnya sesaat setelah ia turun ke tanah.


"Tanah bukanlah tempat yang aman bagi tupai, tapi pohon juga tidak luput dari ancaman. Ada kalanya aku takut ada ular yang masuk ke sarangku." Permata Permai menatap Chip kagum. Chip, walau badannya kecil, namun tekadnya penuh dengan semangat perjuangan. Permata Permai ingat, dulu ia pernah beberapa kali melihat Chip pulang-pulang dalam keadaan kumuh. Entah apa yang dilakukan tupai itu di luar sana.


"Di malam hari, aku akan beristirahat. Memulihkan energi untuk kembali mencari makanan pada esok harinya. Aku terbiasa menghemat persediaan makananku, jadi aku akan makan secukupnya."


"Mengapa kau begitu butuh makanan, wahai Chip?" tanya Permata Permai bingung. Ah, pertanyaan Permata Permai ini terdengar mirip dengan pertanyaan manusia berbaju rapi di rumah paling ujung. Saat itu, Chip tengah mengendap-ngendap mengumpulkan beberapa kacang yang terjatuh dari dekapan pria itu. Seorang teman wanitanya bertanya, "Mengapa kau begitu butuh uang?" Lalu pria itu dengan enteng menjawab, "Seorang wanita yang dibesarkan dengan segala kemewahan tidak akan paham sulitnya menghasilkan uang." Saat itu Chip tidak paham maksudnya, tapi entah mengapa saat ini Chip tiba-tiba memahami maksud pria itu. Tapi tentu saja Chip tidak akan menjawab hal serupa. Chip berdekhem. Lalu menjawab dengan diplomatis, "Aku menumpuk makanan untuk bertahan hidup, berjaga-jaga jika suatu saat tiba-tiba terjadi situasi darurat yang tidak diinginkan. Aku bukan kau, wahai Permata Permai." Sebenarnya Chip pun tidak tahu mengapa ia begitu. Yang Chip tahu, begitulah yang selama ini dilakukan oleh nenek moyang Chip. Tanpa Chip benar-benar memahami, kebiasaan nenek moyangnya inilah yang memungkinkan tupai untuk bertahan bahkan hidup di lingkungan dengan sumber makanan yang tidak terdistribusi secara merata. "Intinya, aku harus terus menimbun makanan untuk diriku sendiri, karena aku tidak bisa bergantung pada siapapun," simpul Chip di akhir. Permata


Permai mengangguk mengerti.


Kini tiba gilirannya, Permata Permai menghembuskan napas perlahan sebelum memulai bercerita. Ah, cerita seperti apa yang hendak ia berikan saat ini. Kehidupannya di sini begitu membosankan


"Aku…," Permata Permai berhenti sejenak, "Aku tidak melakukan apapun di sini. Ya, kau tahu, setiap paginya aku akan bangun. Saat aku bangun, hidangan sudah tersedia. Beberapa hari sekali aku akan dibersihkan. Bukan cuma aku, melainkan juga sangkarku," ujar Permata Permai pelan.


Permata Permai menatap Chip lamat-lamat. "Tidak banyak yang kulakukan sehari-hari. Paling menatap jalanan yang riuh pikuk setiap harinya. Kadang aku merasa bosan karena tidak melakukan apapun, kadang pula aku merasa sepi, sunyi. Semua makhluk sibuk dengan dunianya sendiri. Seakan, mereka tahu apa yang hendak dikerjakan. Sementara aku, hanya berdiam diri di sini, kebingungan pada kehampaan."


“Ada kalanya, segerombolan burung melintas di atas langit. Sering kali aku melihat beberapa burung hinggap di pohonmu. Menatapku bingung. Tapi mereka tak bertanya, tak pula menyapa. Hanya memiringkan sedikit kepala sambil menatapku... prihatin?" lanjut Permata Permai.


Chip tertegun. "Seringnya tatapan burung-burung itu menyiratkan keprihatinan yang mendalam kepadaku, Chip," Permata Permai melempar jauh pandangan ke depan sebelum kembali menatap Chip dengan tatapan kosong yang teramat.


"Menurutmu, mengapa mereka menatapku begitu, Chip?"


Chip kelabakan. Aduh, cobaan apa lagi ini. Mengapa pula para burung itu bersikap demikian. Chip bimbang. Disisi lain, ia tahu mengapa para burung menatap Permata Permai begitu. Di sisi lain, Chip tak ingin Permata Permai menjadi kecil hati. Waduh, seumur hidup Chip. Pilihan tersulit yang pernah ia lakukan adalah memilih makanan favoritnya. Kini, ia harus dihadapkan oleh pilihan paling sulit kedua seumur hidupnya. Apa ia harus jujur saja, tapi kata nenek Chip bohong demi kebaikan itu diperbolehkan. Namun, bagaimana kalau bohongnya tidak menyelesaikan permasalahan. Bagaimana jika kebohongannya hanya memperburuk keadaan. Chip menggigit bibirnya gelisah.


"Wahai Permata Permai, mengapa kau berpikir demikian? Mana tahu para burung itu hanya iri padamu?"


Terkutuklah Chip dan pertanyaannya. Chip mendesah lelah dalam hati, menganggapnya bodoh. "Apaan itu?" Pertanyaan itu justru terdengar konyol setelah Chip mengingatnya. Chip memejamkan matanya sambil meringis, merutuki kebodohannya.


"Aku bisa melihat dari pancaran sinar mata mereka, Chip," ujar Permata Permai lirih. Apakah yang dimaksud Permata Permai sama seperti yang Chip lakukan tadi, saat ia dapat melihat kesedihan di balik sorot mata temannya?


Chip turut sedih, walau ia berusaha mengelak fakta. Namun, Permata Permai dapat melihat semua itu. "Wahai Permata Permai," panggil Chip, "Mungkin memang para burung itu berempati padamu, namun mungkin juga kau salah menangkap makna tersirat dari sorot mata mereka," ujar Chip asal bunyi, kalimatnya keluar begitu saja tanpa dicerna oleh otaknya. Tak tahukah Chip bahwa sedari tadi ia hanya berbelit-belit.


Permata Permai menggeleng lemah. Sebenarnya, Permata Permai sadar Chip tahu maksudnya. Namun, Chip hanya berusaha menghibur Permata Permai. Ah, Chip, tak tahukah kau bahwa bahkan setiap kalimat hiburan yang kau utarakan kini terdengar seperti omong kosong.


Namun, Permata Permai tak serta merta menghunus Chip dengan apa yang ia ketahui. Ia ingin menuntaskan keinginannya. Ia ingin tahu seperti apa rasanya hidup normal. "Bagaimana rasanya bebas, Chip?" Tanyanya penasaran.


Chip tersedak ludahnya sendiri mendapati pertanyaan itu keluar dari mulut Permata Permai. "Bagaimana rasanya jadi makhluk yang utuh?" tambah Permata Permai dengan suara bergetar.


Chip berdekhem. Mengapa Chip rasakan udara semakin sesak di sini? Apa mungkin udara di sekitarnya kini sudah bercampur dengan aura kesedihan yang menguar dari Permata Permai? Chip menghela napas, menatap Permata Permai serius. Tidak ada gunanya Chip bertele-tele lagi. Tidak ada gunanya juga Chip mengelak. "Wahai Permata Permai, sejatinya daku mengetahui apa gerangan yang hendak kau sampaikan. Namun, daku tak enak hati untuk membicarakannya," ujar Chip jujur.


Permata Permai tidak bereaksi, diam menatap Chip dalam heningnya.


"Duniaku, dan duniamu sungguhlah berbeda, wahai Permata Permai. Kau bagai permata, kehadiranmu begitu didambakan. Sedari kecil, kau terbiasa dengan kemewahan dan segala bentuk perhatian yang melimpah dari tuanmu," ujar Chip menegakkan punggungnya.


"Sedangkan kami, terbiasa bertarung melawan dunia. Kebebasan yang kau impikan itu, adalah sebuah arena bertarung. Jika kau tak keras pada dirimu, maka dunia yang akan keras padamu," tegas Chip.


"Bukankah memang begitu seharusnya kita diciptakan, Chip?" Potong Permata Permai. "Bukankah semua makhluk hidup di atas kedua kakinya sendiri, Chip?" Permata Permai bertanya dengan lirih namun tenang. Ketenangan Permata Permai itu membuat Chip deg-degan. Kata Nenek Chip, danau yang tenang lebih berbahaya dari sungai yang deras.


"Iya, memang secara alamiah kita diciptakan seperti itu, wahai Permata Permai. Namun kehidupan yang kami jalankan tak khayal lebih baik dari kehidupanmu. Jika hanya rasa bosan yang mengusikmu, cobalah untuk melakukan sesuatu yang kau sukai, wahai Permata Permai," ujar Chip.


Chip tersenyum lembut. “Kebebasan bukanlah tentang ketenangan tanpa konflik, Permata Permai. Kebebasan adalah tentang memiliki kekuatan untuk menghadapi konflik dan mengatasi tantangan dengan keberanian dan keteguhan. Ada harga yang harus kau bayar untuk itu dan harga itu tidak sebanding dengan kedamaian yang saat ini kau dapatkan."


Hening sejenak. Chip menunggu reaksi Permata Permai.


"Apakah terlalu dangkal jika aku menginginkan kebebasan hanya karena merasa bosan?" gumam Permata, berbicara kepada dirinya sendiri. "Ataukah itu adalah keinginan yang sah, yang timbul dari kehausan akan petualangan dan eksplorasi?"


Permata merenung sejenak, membiarkan pikirannya terbang menjelajahi hati yang gundah. Dia mengingat saat-saat ketika dia terbatas oleh tali-tali peraturan dan keterikatan rutinitas. Dia burung yang terkurung dalam sangkar, ingin sekali merasakan angin bebas yang menyapu wajahnya, mendengar nyanyian alam yang liar, dan menjelajahi tanah yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.


"Tidak, ini bukan hanya soal bosan," batin Permata dengan mantap, menatap yakin pada Chip. "Ini tentang merasakan ruang untuk tumbuh dan berkembang, tentang mengejar impian-impian yang tertunda, dan tentang menemukan diri sejati di dalam kebebasan."


Permata percaya bahwa kebebasan adalah hak alami setiap makhluk hidup. Dia tidak melihatnya sebagai keinginan dangkal, tetapi sebagai kebutuhan yang mendalam akan ekspresi diri dan kreativitas. Baginya, kebebasan adalah fondasi bagi pertumbuhan pribadi dan pemenuhan jiwa.


"Chip, maukah kau mendengar suara hatiku?" tanya Permata Permai.


Chip mengangguk, sedikit bingung dengan arah pembicaraan, namun memilih diam.


Permata Permai membuka mulutnya perlahan, senandung indah keluar begitu saja dari tenggorokannya. Nyanyian surgawi yang tidak didengar Chip sepanjang hari. Kini, Chip melihat ada keajaiban yang keluar dari setiap untaian kata serta melodi yang Permata Permai hasilkan.


Jika hatiku bersuara, pastilah ia menyuarakan kebebasanku.

Jika hatiku bersuara, pastilah ia menyuarakan sesakku.

Jika hatiku bersuara, pastilah ia menyuarakan kehampaanku.

Jika hatiku bersuara, pastilah ia menjerit.

Tapi tak ada satu pun yang melirik.

Tak ada satu pun yang berhenti.

Tak ada satu pun yang mengerti.

Duhai hati yang kini membengkak, kuatkanlah dirimu untuk bernapas.


Chip mendengarkan setiap untaian kata yang disenandungkan oleh Permata Permai dengan khidmat. Ah, apakah ia bukanlah teman yang baik? Bukannya mencoba memahami perasaan temannya, Chip justru malah membandingkan nasib mereka. Bisakah Chip merasakan kesedihan Permata Permai jika yang ia gunakan adalah raganya?


Saat Chip mendengarkan suara hati Permata Permai, dia merasakan getaran emosi yang mengalir begitu dalam. Dia menyadari bahwa kebebasan yang Permata Permai idamkan bukanlah sekadar keinginan untuk melarikan diri dari kebosanan, tetapi juga sebuah jeritan jiwa yang mencari pemahaman dan pengakuan.


Sebening kristal keluar dari sudut mata Chip tanpa ia sadari. Chip menggelapkan ujung matanya, menatap kehampaan dari kedua bola mata Permata Permai. Sesaat, dia berharap bisa merasakan beban yang Permata Permai pikul, tetapi dia tahu bahwa setiap jiwa memiliki perjuangan dan pertarungan mereka sendiri. "Duhai, Sang Pencipta, mengapa mudah saja bagi-Mu meredupkan sepasang mata indah itu?" tanya Chip dalam hening.


"Bolehkah aku egois, Chip? Menolak takdir... yang kau dambakan ini, lantas menginginkan kebebasan yang kejam itu? Terbang lepas bebas, ke mana pun yang kuinginkan. Berkelana melihat dunia, walau yang kulihat nanti hanyalah... kefanaan semata." Bahunya bergetar, suaranya terdengar putus-putus seakan menahan gejolak emosi yang terpendam.


Chip memajukan badannya, mendekatkan diri dengan Permata Permai. Menyentuh helaian bulu halus miliknya. "Wahai Permata Permai," bisik Chip dengan suara lembut, sambil membiarkan tangannya mengelus lembut bulu-bulu halus Permata Permai. "Kita tidak bisa menolak takdir yang telah ditetapkan, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita menanggapinya. Kebahagiaan dan kebebasan tidak selalu ditemukan dalam perjalanan fisik, tetapi juga dalam perjalanan batin." Chip menggenggam sayap Permata Permai dan ikut bersenandung.


Wahai Permata Permai, jika kau bersedih maka menangislah;

Wahai Permata Permai, jika hatimu sesak maka teriaklah;

Wahai Permata Permai, jika kau kesal maka marahlah;

Wahai Permata Permai, jika kau kecewa maka bersabarlah;

Wahai Permata Permai, dunia terlalu rumit untuk kau tafsirkan;

Wahai Permata Permai, dunia terlalu luas untuk kau bandingkan;

Wahai Permata Permai, hidupmu terlalu berharga untuk diabaikan.


Dengan penuh kasih sayang, Chip dan Permata Permai saling menguatkan satu sama lain. Nyanyian Chip hari itu menutup mendungnya hari Permata Permai. Bak mendukung dan mengiringi kegundahan hati Permata Permai, sore itu langit menurunkan rahmat-Nya.





-Selesai-


#BuahImajinasi 

 


0 comments