 |
| Sumber: Pinterest |
Angin bertiup menghembuskan dedaunan yang siap turun
ke bumi, menghantarkan aroma hangat yang menyejukan. Hari ini sama seperti
sepuluh tahun yang lalu, aku berdiri. Di tebing tertinggi desaku, melihat alam
semesta sambil membuka kembali lembaran lama yang tersimpan rapi di sudut relung
hatiku. Tentang kisahku disini, tentang hari – hari beharga yang pernah aku
alami disini, tentang kisah yang tak lekang oleh waktu, tentang sebuah proses
pembelajaran dari seseorang yang amatku hormati. Tentang bagaimana ilmu
mengubah dunia, dan tentang orang yang senantiasa memberikanku asupan ilmu.
Bu Yura…
Mengingat
kembali namanya membuat sebersit senyum tulus terukir untuk nya.sosok inpiratif
yang membuatku selalu berdecak kagum. Kepada ketulusan hati serta keramahan
sikapnya, sikap tenangnya membuat hatiku juga dilingkupi perasaan tenang.
Semenjak mengenalnya, tak pernahku temui amarah dalam sorot matanya, bahkan
saat semua orang memusuhinya. Aku melihat dengan kedua mataku sendiri,
bagaimana Bu Yura berjuang mengubah orang – orang di desaku. Bagaimana ia
dengan senantiasa mengingatkan kami akan kesehatan dan Pendidikan. Bukan hanya
sebagai guruku, tapi sebagai seorang ibu. Bu Yura selalu ada disaat aku
membutuhkan nya.
Ah… kini semua cerita itu kembali terputar, mengulang
kembali kisah yang pernah ada. Tentang seorang kartini bangsa yang begitu sabar
menuntun kami.
Hari ini seperti biasa suara merdu dari ayam
pak Budi -tetangga sebelah rumahku- membangunkanku dari tidur lelap ku. Aku
merenggangkan sedikit badanku, lalu bangkit dari posisi nyaman ku. Kasur dipagi
hari memiliki daya magnet yang lebih besar. Bisd terlambat jika aku tak melawan
gaya magnet itu dengan seluruh tenagaku. Didesa ku kebanyakan rumah memiliki
kamar mandi yang terpisah dengan rumah. Sama hal nya dengan rumah ku ini,
sebelum mandi aku harus menimba air di sumur. Mengisi beberapa jirigen air
untuk keperluan Mamak mencuci. Habis semua terisi penuh barulah aku mengguyur
badan ini denan air sedikit demi sedikit. Rasa dingin dipagi hari menerpa tubuh
ku, ditambah dengan guyuran air sumur yang dingin membuat bulu kuduk ku
meremang seketika. Dirumahku ini tidak ada air panas yang meluncur dengan
mudahnya saat di putar, memasak air hangat di pagi haripun akan membuat Mamak marah. Harap maklum, kami masih menggunakan kayu bakar. Jika kayu bakar untuk
memasak Mamak habis, bisa – bisa hari ini aku akan kenyang dengan omelan ibu.
Sehabis mandi aku tak menemukan Mamak dimana – mana. Rumah ku kosong dan sepi namun, sepiring nasi goreng sederhana
bikinan ibu telah tersaji diatas meja. Kuamati nasi goreng itu dengan seksama,
sudah dingin. Itu artinya Mamak telah berangkat dari tadi ke ladang.
Selama perjalanan ke sekolah
sesekali tetangga – tetanggaku menyapa dengan ramah, dan kubalas dengan
senyuman termanis milikku. Di ujung sana kulihat seorang perempuan tengah
menjelaskan sesuatu pada para petani. Para petani itupun juga tengah serius
mendengarkan penjelasan perempuan bertudung selendang merah itu. Penasaran
dengan apa yang buk Yura jelaskan. Aku mulai mendekat perlahan. Dari
jarak ku sekarang saja aku dapat mendengar dengan baik bagaimana salah satu
petani itu bertanya kepada buk Yura. Bahkan ada beberapa yang minta untuk
dijelaskan sekali lagi.
Aku tersenyum saat melihat bagaimana
sabarnya buk Yura menjelaskan. Aku bahkan melihat rona kebahagiaan dari
beberapa petani saat buk Yura selesai menjelaskan.
“
jadi kita gak perlu pakai cara manual lagi ya buk ?” tanya salah seorang
petani.
Sambal
tersenyum buk Yura menjawab “tidak perlu pak, toh bapak akan mendapatkan hasil
yang lebih banyak dan energi yang lebih sedikit keluar”. Aku melihat bagaimana
para petani itu mengangguk – anggukkan kepalanya tanda bahwa mereka sepenuhnya
mengerti.
“ya ampun buk Yura, untung ibuk memberitahukan kami bagaimana menenam padi
dengan benar sehingga kami bisa cepat memanen “. Ujar buk Retno.
Aku
melihat bagaimana buk Yura tersenyum menanggapi pujian yang dating padanya.
Semakin dipuji buk Yura semakin menunduk. Sama seperti padi, semakin berisi
semakin menunduk. Aku melihat beberapa ibuk – ibuk petani memeluk buk Yura
sebagai bentuk ucapan terimakasih. Dan buk Yura sama sekali tak merasa risih.
Selepas para petani itu pergi barulah aku menyapa buk Yura.
“ibuk
memang hebat ya “ puji ku saat aku telah sampai disebelahnya.
“Dina
? kapan kamu dating?. Saya bahkan gak sadar kalua ada kamu disini”.
“
Yah… bagaimana ibuk mau sadar saat ibuk tengah serius menjelaskan sesuatu pada
para petani tadi “. Aku melihat segaris senyum tulus itu tersungging kembali.
“ibuk
baru selesai membaca buku tentang pertanian padi yang benar, setelah tahu akan
kebenaran. Rasanya mulut ibuk gatal sekali untuk memberitahu kebenaran nya pada
para petani disini. “. Ujar buk Yura dengan semangat.
“ibuk
kan selalu gatal untuk membagi ilmu “ godaku.
Mendengar
perkataan ku buk Yura kembali tertawa.
“Hanya dengan ilmu, ibuk merasa
berguna bagi sesama Dina. Ibuk bukan orang kaya, jangankan membantu mereka
membeli bibit unggul. Makan sehari aja belum tentu. Tapi dengan ilmu ibuk
merasa mampu membagikan kepada mereka, khususnya kaum tua yang sudah malas dan
tidak bisa membaca”. Aku melihat kesungguhan dari kedua bola mata buk Yura, itu
saat pertama kali aku kagum pada ketulusan hati buk Yura. Kagum dengan tekad
serta kesungguhan hati buk Yura, kadang aku berpikir ada gak sih saat dimana
buk Yura merasa Lelah dan ingin menghentikan semua ini. Karena sebagai salah
seorang yang kenal dekat dengan buk Yura. Aku tahu setiap langkahnya begitu
berat banyak sekali kerikil kerikil kecil maupun bebebatuan besar yang menghalanginya.
Terkadang, terbesit rasa kasihan di hatiku. Tak tega melihat buk Yura harus
berhadapan dengan begitu banyak masalah untuk membela Pendidikan di desa ku
ini. Terkadang, malah perasaan haru bercampur bangga yang kusematkan padanya.
Pada sosok tegar dibalik raga mungil miliknya.
Saat aku dan buk Yura datang
beberapa siswa masih bermain – main di luar.ada beberapa yang bermain kejar –
kejaran, ada juga yang hanya duduk manis di atas pasir putih tanpa alas sambal
bercanda gurau. Ada juga yang tengah menyapu. Ah… sekolah ku ini tak bukan
seperti sekolah – sekolah di kota besar yang sering ku lihat di buku. Sekolah
ku berdinding triplek pemberian beberapa warga, atap nya terbuat dari untaian
daun kelapa yang tumbuh subur di desa ku, lantainya hanya beralas pasir putih.
Bangkunya terbuat dari kayu bekas atau pohon tumbang di desa, di haluskan
sedikit agar lebih nyaman tapi tidak di cat sama sekali. Meja nya pun sama.
Meja Panjang yang muat tiga sampai empat orang. Namun, kami bersyukur karena
masih bisa sekolah. Untuk menghiasi kelas – kelas buk Yura menyuruh kami
membuat kerajinan tangan dari alam. Kerajinan – kerajinan ituah yang membuat
kelas kami sedikit lebih bewarna. Tidak ada kipas angin apalagi AC. Hanya
tiupun angin siang yang hangat menerpa kulit kami. Jika hujan, maka kami akan
bergotong royong menampung air dan berkumpul untuk saling menghangatkan. Papan
tulis pun kami dapatkan dari bantuan kepala desa. Syukurnya, kami memiliki
papan tulis putih, tidak lagi menggunakan papan tulis kapur yang menyesakkan
dada setiap kali dihapus. Ruang guru pun di bangun dengan apa adanya, tak
begitu istimewa.
Guru disekolah kami pun tidak
banyak, terkadang buk Yura lah yang mengambil alih kelas – kelas yang tak ada
guru. Buk Yura seakan membagi dua tubuhnya mengajar disebelah kanan dan
memberikan tugas untuk kelas disebelah kiri atau sebaliknya. Alih – alih
mengeluh buk Yura malah tertawa saat ku tanya apakah ia penat.
Hari ini buk Yura memilih
mengajarkan kami di lingkungan bebas, terlepas dari sekat – sekat triplek yang
menghalangi. Memandang alam sepuasnya. Belajar secara langsung dari alam,
seperti saat ini. Kami dibiarkan tercerai namun, masih dekat satu sama lain.
Dan di depan sana buk Yura tengah menjelaskan dengan serius.
“Jadi, di ala ini terdapat berbagai
macam simbiolis. Coba kalian perhatian beberapa kerbau di ujung sana. Kalian
lihat ada beberapa burung yang hinggap di tubuh kerbau itu ?” tanya buk Yura
sambal menunjuk kea rah kerbau.
“Tidak ada burung buk “ ujar Ian
sambal menggaruk – ngaruk kepalanya yang tak gatal.
“Aduh, baru bocah udah minus. Coba
perhatikan baik – baik “ jawab ku sebal dengan tingkahnya. Mengetahui aku yang
menjawab Ian justru mendengus kesal. Melihat hal itu Buk Yura menggulum
senyumnya.
“Coba perhatikan baik – baik Ian.
Jika kamu kesulitan untuk melihat dengan jarak jauh. Coba deh makan wartel “
timpal buk Yura. Sedangkan yang dibilangi hanya cengar – cengir gak karuan.
“Itu namanya simbiosis mutualisme ya
buk ?”tanya Chika.
“Benar sekali, symbiosis antara
kerbau dan buruk jalak termasuk symbiosis mutualisme karena mereka sama – sama
saling menguntungkan. Burung jalak dapat makanan dari kutu yang ada pada
kerbau, sedangkan kerbau mendapatkan keuntungan karena rasa gatal akibat kutu
dapat berkurang”. Aku dan teman – teman ku pun dengan kompak mengangguk paham.
Tak jarang juga buk Yura mengajak kami untuk melihat lebih dekat agar kami
dapat memahami lebih jauh. Walaupun terkesan serius, terkadang kami juga
bercanda gurau kok, Ian akan menjahili ku dan aku akan merengek bagaikan gadis
kecil minta dibeliin permen pada buk Yura. Seketika itu, gelak tawa pun pecah.
Sepulang sekolah, aku berjalan berdampingan dengan Bu Yura. Sejenak hanya hembusan angin yang menemani kami berjalan. Tak ada yang memulai pembicaraan baik aku maupun Bu Yura. Sampai akhirnya kita melihat keramaian di ujung sana. Aku dan Bu Yura saling berpandangan sebentar sebelum akhirnya mempercepat jalan kami. Aku bisa melihat salah seorang anak gadis kira- kira umurnya di atasku tengah menangis memohon sesuatu. Bu Yura dengan gesit membelah kerumunan warga yang hanya bisa diam menonton.
“Heh... Bu Guru tahu apa? Ini masalah keluarga saya. Jadi, jangan ikut campur!” Bentak Ibu itu dengan marah. Para warga memilih membungkam mulut mereka rapat – rapat. Seakan tak ingin terlibat dalam masalah ini namun juga tak mau melewatkan tontonan gratis.
“Ada apa ini bu?" tanya Bu Yura sambal memeluk gadis itu. Melihat aksi heroin Bu Yura, Ibu itu mendecih kesal. Lalu menarik paksa tangan anak perempunya dengan kasar hingga terlepas dari rangkulan Bu Yura.
Tanpa memedulikan ucapan si Ibu, Bu Yura mengalihkan perhatiannya pada perempuan yang tengah menangis menahan sakit dipergelangan tangannya ” ada apa nak ?” bujuk Bu Yura lembut.
Aku melihat bagaimana sang Ibu mencengkram tangan si perempuan itu dengan erat. Melihatnya saja membuat ku meringis. Namun saat melihat kedua bola mata Bu Yura, perempuan itu seakan mendapatkan seberkah harapan.
“A..aku gak mau di nikahi Bu Yura “ Mohon gadis itu dengan lirih. Bahkan, diakhir kalimatnya harus tertahan dengan teriakan yang memekakkan. Ibu gadis itu kembali mencengkram kuat pergelangan tangannya.
Lalu, perhatianku tertuju pada Bu Yura, aku melihat pancaran emosi terpendam dalam diri Bu Yura. Aku melihat kedua tangan buk Yura yang menggepal menahan amarah.
“Ibuk, tolong lepaskan anaknya. Kita bisa bicarakan ini baik – baik” Bu Yura berusaha membujuk sang Ibu dengan memelankan suaranya. Namun, aku dapat melihat deru nafas yang tak beraturan dari Bu Yura.
“Apa untungnya saya diskusikan masalah pernikahan anak saya sama kamu! " Hardik Ibu itu " Hei.. Ibu guru, jangan ikut campur masalah keluarga orang. Mending kamu pulang sana, urus sekolahmu. “ lanjut Ibu itu dengan menunjuk Bu Yura.
Aku menutup kedua mataku sebentar. Berusaha menghirup udara untuk melapangkan hati. Sang Ibu sama sekali tak berniat menurunkan nada bicaranya. Tidak peduli jika mereka tengah disaksikan oleh warga.
“Namun, dengan begini anda justru mempermalukan diri anda sendiri. Saya mohon, kita bisa diskusikan masalah ini dengan kepala yang dingin. “ Bu Yura berusaha menggapai tangan si gadis, namun dengan kasarnya tangan halus Bu Yura ditepis oleh sang Ibu dengan mata yang membelalak.
“Saya tidak butuh pendapat kamu ! “
“Tapi anda butuh pendapat anak anda Bu. Anak anda tidak ingin dijodohkan di usia yang masih dini ini Bu. Lagi pula, tidak baik perempuan nikah muda. Resiko kematiannya lebih tinggi Bu.“ si Ibu meludah tepat di depan buk Yura. Melihat hal itu aku menahan nafasku sejenak. Melirik beberaa orang yang juga tengah terkejut menyaksikkan kejadian barusan.
“Tahu apa kamu tentang kematian? Saya menikah di umur 12 tahun dan saya masih sehat sampai sekarang !!!” ujar sang Ibu ngotot.
Ini salah satu resiko tinggal di desa. Orang tua di desa masih memiliki pola pikir yang konservatif, masih berpatokan pada kebiasaan leluhur. Menganggap apa yang leluhur mereka lakukan adalah sebuah kebenaran yang patut dilestarikan.
“Ibuk tahu, seorang wanita yang tidak siap dan dipaksa saat ia masih belia akan menimbulkan trauma baik itu secara fisik maupun psikis Bu. Ibu gak bisa menjamin bahwa anak Ibu akan bernasib sama seperti Ibu. Akan sehat sampai sekarang, dan maaf Bu jika saya terlalu lancang. Saya rasa Ibu juga tidak tahu apakah Ibu benar – benar sehat seutuhnya atau hanya sehat – sehatan. Karena Ibu berpatokan dengan tubuh Ibu yang terlihat baik – baik saja, kita tidak tahu apa yang telah rusak di dalamnya.” papar Bu Yura dengan tegas.
Aku memandang Bu Yura takjub, walau sedang diselimuti amarah. Namun ia masih bisa menjaga nada bicaranya.
“Alah, tahu apa kamu tentang saya. Pokoknya anak saya harus nikah. Mau gak mau, suka gak suka. Gak peduli saya sama kamu“ Baru saja Bu Yura ingin memprotes namun si Ibu sudah menyeret paksa tangan gadis itu. Saat Bu Yura ingin mencegah ia terlambat. Beberapa warga yang menyaksikan kini memilih berpihak pada si Ibu tadi. Mereka menahan tangan Bu Yura sekuat yang mereka bisa.
"Sudah bu guru, kita tidak bisa mencampuri urusan keluarga Bu Tanti lebih lanjut. Ini bukan pertama kali di desa ini bu. Jika Bu guru terus memaksa, akan lebih runyam Bu" Ujar salah seorang warga yang tengah memegang lengan Bu Yura.
Bu Yura menoleh, mentap tak percaya dengan apa yang disampaikan " Pak, ini sesuatu yang salah pak. Kita tidak bisa diam disaat tunas desa kita tengah menjerit meminta pertolongan. " Ujar Bu Yura frustasi " Kita tidak bisa membiarkan gadis malang tersebut tersiksa pak" pecah sudah tangis Bu Yura.
Tangis gadis itu menggerakan kedua kakiku untuk melangkah menggapainya. Aku berhasil menggapai pergelangan tangan si Ibu dan membalikan dengan sedikit kasar.
Dengan nafas yang memburu aku berkata “ Ibu macam apa yang tega menyerahkan anaknya demi kepentingan sendiri. Apa Ibu tidak melihat raut ketakutan yang tergambar jelas di wajah anak Ibu? Apa Ibuk tidak takut kalau anak Ibuk nantinya akan mengalami rasa pahit yang begitu dalam?” Beberapa orang yang menonton kini ikutan menarik tanganku untuk menjauh dari sana. Namun, segera saja kutepis dengan kasar. Sungguh, aku tak ingin membiarkan ketidakadilan ini dibiarkan.
“Hei anak kecil tahu apa kamu tentang kepahitan?" Jawab Bu Tanti " Dengar ya , sudah menjadi takdir dari seorang perempuan untuk menikah dan mengurus keluarganya. Lalu, apa bedanya 5 tahun lagi dengan sekarang? Toh dia juga akan menjadi milik suaminya.” Lanjut Bu Tanti.
Aku syok mendengar perkataan Bu Tanti. Perasaanku saja atau memang perkataannya barusan seakan beranggapan bahwa anaknya adalah barang? Enak sekali Ibu ini bicara. Barus saja aku hendak menjawab, kembali suara seseorang mengintrupsiku.
“Tentu saja beda buk!” suara lantang itu bukan milkikku melainkan milik buk Yura.
“Anak sekecil dia belum siap menjadi Ibu baik itu secara fisik maupun mental. Taruhannya nyawa Bu!" Terang Bu Yura dengan nafas yang memburu.
"Demi tuhan, anakmu akan tersakiti. Biarkan dia bersekolah untuk menimba ilmu. Biarkan dia menjadi anak – anak seusianya.” Suara buk Yura bergetar saat mengatakannya. Perempuan tangguh itu bergetar berusaha meyakinkan sang ibu. Aku mengalihkan pandanganku pada mata Bu Tanti. Sejenak aku melihat kedua pupil mata Bu Tanti melebar, namun kembali normal beberapa saat kemudian.
Aku melihat setetes air mata mengalir dari kelopak Bu Tanti. Namun segera di usap dengan kasar oleh Bu Tanti.
“Seandainya keluarga saya tidak miskin, saya tak akan membiarkan Tiara menikah di usia dini. saya pun seorang ibu, saya tahu ini akan menjadi penderitaan sementara bagi Tiara. Namun saya yakin Tiara sekuat saya. Ia akan melewati masa sulitnya, ia mendapatkan keluarga kaya. Dengan menikah, setidaknya adik–adik Tiara bisa bersekolah. Saya hanya seorang perempuan miskin Bu Yura. Jika saya mati, bagaimana dengan anak–anak? sedangkan suami saya terkapar tak berdaya di atas ranjang kusam kami. Jika ibuk memang peduli pada saya, bisakah Ibu membantu saya melunasi segala hutang saya?" Bu Tanti menatap nyalang pada kedua mata Bu Yura.
"Lagipula, saya bukanlah satu–satunya wanita di desa ini yang menikahkan anaknya yang masih belia. ayo Tiara!!!” tambah Bu Tanti sebelum benar-benar pergi dari sini.
Aku melihat bagaimana akhirnya Tiara pasrah di seret oleh sang Ibu, aku melihat bagaimana raut keputusasaan dari muka Tiara. Ada rasa lelah mendebat di sana, ada kebenaran yang terselip dalam perkataan sang Ibu yang tak bisa ia elakkan. Beberapa warga memilih membubarkan diri dalam kediaman. Sedangkan dibelakangku, Bu Yura tengah menangis sambal terduduk. Isakan pilu dari seorang perempuan. Aku menghampiri Bu Yura, lalu mendekapnya erat. Menyalurkan kekuatan dalam pelukanku. Sejenak tak ada kata yang terucap, aku mengurai sedikit pelukanku pada Bu Yura. Ku dekap mukanya dengan kedua telap tanganku. Pucat dengan tatapan kosong. Entah apa yang Bu Yura pikirkan. Namun aku yakin, ini adalah bentuk dari rasa kekecewaan terhadap dirinya sendiri.
Saat itu baik aku
sama buk Yura sama sekali tak dapat melalukan apapun. Aku bahkan masih
mengingat dengan jelas bagaimana buk Yura seakan kehilangan semangat hidupnya
beberapa hari. Aku pun sama, ada rasa teriris yang tak kasat mata. Lewat angin,
diam – diam baik aku maupun buk Yura menyelipkan seuntai doa untuk Tiara.
Berharap angin dapat menerbangkan harapan yang terpendam dari seorang guru dan
sahabat. Semenjak kejadian itu, baik aku maupun buk Yura sama sekali tak pernah
melihat Tiara maupun keluarganya.kabar mereka seakan lenyap ditelan bumi. Sulit
bagi buk Yura untuk menjalani hari – harinya setelah kejadian itu. Para warga
yang tadinya diam sekarang mulai mengeluarkan suaranya. Belum lagi bumbu –
bumbu penyedap yang mereka tambahkan seenaknya. Beberapa dari mereka bahkan
menggap buk Yura sebagai orang yang suka ikut campur.
Walau
tak mengatakan apapun, namun sebagai seorang murid yang merangkap menjadi
temannya. Aku tahu bahwa sedikit banyaknya gossip yang tersebar menghantuinya.
Terkadang aku mendecih sebal melihat tingkah laku ibu – ibu penggosip itu.
Ingin rasanya berteriak membungkam mereka dengan kata – kata tajam ku. Namun
buk Yura selalu menghentikan nya. Buk Yura seakan punya radar jika aku sedang
marah dan akan berusaha sekeras mungkin untuk menghentikan aksi ku. Walau buk
Yura telah memberitahu kebenaran akan cerita yang sebenarnya namun , kebanyakan
dari mereka sudah terpengaruh dengan bujuk rayu si biang gossip. Setelah itu,
taka da lagi pembelaan yang keluar dari mulut tipis buk Yura. Ia hanya diam
mendengar kabar yang salah.
Aku
membalikkan tubuh ku, berjalan perlahan, lalu aku bersimpuh di hadapan sebuah
makam. Hanya ada satu makam di tebing ini. Dan untuk inilah aku kesini,
mengunjugi teman lama. Makam ini hanya ditutupi oleh rumput hijau yang rimbun.
Tak ada pagar pembatas di makam ini. Hanya makam biasa, dengan beberapa bunga
yang sengaja di tanam oleh warga. Dari tempat ku ini aku dapat melihat matahari
tenggelam dengan tenang. Ku pikir ini yang menjadi alasan kenapa ia ingin
dikuburkan disini. Agar ia dapat melihat panorama yang indah dari atas sini.
Melihat keadaan desa yang begitu tentram, dapat melihat kesemua penjuru desa.
Aku
menaburkan helaian bunga yang ku petik tadi sebelum kesini, perlahan ku usap
batu nisan . seuntai nama tertulis indah di atas batu nisa itu. Nama yang
setiap ku menyebutnya, bibir ini akan gemetar. Aku menghirup nafas sejenak,
menenangkan hati yang kembali bergejolak. Setiap kali kesini, aku tak sanggup
menahan tangis. Ukiran tinta putih di atas batu nisan yang hitam tertera jelas.
Nama itu pernah jadi bahan hinaan di desa ini, pernah tak dianggap, setiap
perkataan nya pernah menjadi angin lalu bagi sebagian orang. Namun kini nama
itu terlukis jelas di papan sekolah desaku. Tempat pertemuanku dengan nya.
Kini
nama itu juga terukir indah di hati setiap warga desa. Untuk orang yang dengan
sabar memberikan arahan. Untuk setiap cacian yang dibalas dengan senyuman,
untuk pengabdian yang luar biasa pada desa ini.
“Buk Yura kini namamu
akan selalu hidup dalam sanubari kami. Terimakasih untuk setiap doa yang kau
panjatkan. Untuk setiap usaha yang kau lakukan, untuk setiap pengabdian mu.” Ku
hirup dalam – dalam udara disekitar ku saat rasa sesak itu kembali memenuhi hatiku.”engkau
sebagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan.
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.”. Bibir ini bergetar saat ku
senandungkan beberapa potongan lagu Hyme Guru. Padamu guruku, engkau membuat ku
belajar banyak hal. Tentang hidup yang tak pernah lelah mengunjing kita,
tentang rasa sabar yang begitu dalam, tentang ilmu yang tak ternilai.
Setahun
berlalu walau sudah tak banyak lagi yang mengunjing buk Yura, namun sebagian
dari warga masih sering melihatnya sinis. Aku pun tak dapat berbuat apa – apa.
Pagi ini, aku mendapatkan sebuah amplop yang terselip di bawah pintu ruang
guru. Aku melihat kesana – kesini, mencari tahu siapa gerangan yang
mengantarkannya. Namun, aku tak menemukan siapa pun. Kubolak – balikan amplop
putih ini, dan tertera nama buk Yura disana. Sesampainya buk Yura disekolah,
langsung saja kuserahkan amplop itu padanya. Pada awalnya, aku menggoda buk
Yura, mengatakan itu surat dari penggemar rahasianya. Dan seperti biasa, dengan
tawa khas nya dia membuka amplop itu. Lalu, membaca surat yang terdapat dalam
amplop itu. Aku melihat kerutan di dahi buk Yura saat membacanya, lalu tak lama
kemudian, isak tangis terdengar. Bingung harus berbuat apa. Aku mengusap pelan
punggung buk Yura sambal mendekapnya. Lalu, membaca setiap rangkaian kata yang
tersaji di sana.
Hallo buk Yura, apa kabar ? kuharap ibuk selalu dalam lindungan yang kuasa.
Aku menulis surat ini dalam keadaan hamil tua, entah mengapa rasanya ingin sekali memberikan kabar ku pada kalian. Aku takt ahu bagaimana menjelaskan kabarku, yang pasti aku masih hidup. Setidaknya sampai detik ini. Buk Yura terimakasih atas perjuangan yang ibuk lakukan saat itu. Saya sangat tersentuh. Untuk pertama kali dalam hidup saya ada orang yang begitu mengerti keinginan saya. Namun saya terlalu lemah untuk mengubah takdir saya sendiri. Terlalu takut terhadap keadaan yang memaksa kami. Menikah di usia muda tidaklah mudah, saya sering kali iri kepada mereka yang masih bisa memakai baju sekolahnya. Selama ini keluarga saya pindah ke kota. Disini saya menjalankan hari – hari saya sebagai seorang istri.
Buk Yura…
Anda benar, rasanya menyakitkan saat dipaksa untuk melayani suami mu di usia yang masih belia. saya tersiksa namun tak berani mengeluh. Saya kebingungan namun tak ada yang membimbing saya. Sendirian menangis di malam yang sunyi. Entah keberanian darimana yang saya dapatkan saat menulis surat ini yang pasti, dala surat ini saya ingin buk Yura dan Dina membantu mengubah pemikiran orang dewasa di desa kita. Tolong jangan ada Tiara – Tiara yang lain nya. Cukup saya saja yang tahu betapa menyakitkan nya menjadi seorang istri di usia belia. saya bahkan tak yakin saya dapat mengurus buah hati saya.
Dalam keadaan yang begitu rapuh ini, ku torehkan sebuah permohonan serta harapan yang besar. Kepada kalian, yang berani menentang tradisi. Untuk menjadikan desa kita lebih baik lagi.
Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih. Walau beribu ucapan terimakasih tak mampu membalas pengorbanan kalian. Walau saya tetap dinikahkan. Namun saya bahagia karena pernah ada orang yang begitu saying pada saya.
Tertanda,
Tiara.
Sejak menerima surat dari Tiara, baik aku maupun buk Yura memantapkan hati untuk memberikan edukasi yang mendalam bagi warga desa tentang pernikahan Dini. Pada awalnya tentu saja tak mudah, aku bahkan ikut – ikutan di hina oleh warga setempat. Namun ketakbahan serta ketulusan hati yang begitu dalam mampu menyadarkan mereka satu per satu. Hingga akhirnya, tradisi itu seakan hilang dan lenyap dari desa kami.
Selesai.
1 comments
Sederhana, Tapi pernuh makna, menggambarkan bagaimana sosok seorang guru 👍
ReplyDelete