[Review Buku] Si Anak Kuat - Tere Liye


Judul : Si Anak Kuat

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Gramedia

Jenis Buku : Fiksi

Halaman : 427 Halaman

Tahun Publikasi : Cet 4, 2022

Harga : Rp. 85.000 (gramedia.com)

Rating : 4/5  

Novel ini merupakan salah satu seri dalam serial novel Si Anak Nusantara. Serial Anak Nusantara sendiri merupakan buku serial republish dari serial Anak-Anak Mamak. Walau begitu, novel ini tetap dapat dinikmati sendiri - sendiri.

Amelia, si bungsu yang tinggal di perkampungan lembah Bukit Barisan bersama keluarganya. Amel merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, adapun kakak- kakaknya bernama Eliana, Pukat, Burlian.

Bab pertama dibuka dengan keluhan Amel tentang dirinya sebagai anak bungsu. Anak yang selalu di suruh-suruh oleh si sulung Eli. Namun jauh dilubuk hatinya terdalam ia ingin sekali menjadi Eli.

Amel sudah besar! Amel bukan anak kecil lagi yang hanya bisa disuruh-suruh. Kenapa sih semua orang bilang Amel masih kecilah, Amel masih ingusanlah.

Terlebih kakak kedua dan ketiganya sering kali meledeknya sebagai penunggu rumah. Hal hasil Amel membenci takdirnya sebagai anak bungsu. Meski begitu Bapak berusaha meyakinkan Amel bahwa anak berapapun itu, akan sama posisinya, sama-sama penting hanya beda tanggung jawab sesuai umurnya. Walau anak bungsu, namun Amel adalah yang paling kuat sehingga Amel mulai menerima takdirnya sebagai anak bungsu.

Kisah Amel berlanjut ketika ia diminta membantu Chuk Norris oleh sang guru, Pak Bin. Norris adalah anak yang nakal dan tak suka begaul dengan teman-temannya. Sebagai anak murid kesayangan Pak Bin, beliau percaya bahwa Amel mampu merubah Norris menjadi lebih baik. Meski sempat ragu namun perlahan Amel dapat menaklukkan hati Norris.

Amel memiliki seorang paman bernama Paman Unus. Paman Unus kerap mengajak Amel berpetualang di hutan. Hingga suatu hari Amel menemukan pohon kopi dengan kualitas terbaik yang pernah ia lihat. Suatu ketika terjadi masalah dengan hasil panen kopi di kampungnya. Diadakanlah rapat terkait hasil panen kopi oleh warga kampung. Dengan kekuatan dan keberaniannya, Amel mengusulkan ide yang awalnya sempat ditolak oleh beberapa warga. Ide yang Amel sampaikan tentang hasil panen bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Namun kegigihannya dalam meyakinkan warga desa berbuah manis. Walau pada akhirnya ide yang Amel usulkan tidaklah berjalan sesuai rencana. Namun dukungan keluarga dan orang-orang yang mempercayainya berhasil menguatkan Amel dalam menghadapi masa-masa sulit tersebut.

Novel ini merupakan salah satu cerita karya Tere Liye yang bagus dan menyentuh. Sebagai sesama anak bungsu, saya paham betul perasaan Amel. Novel ini menginterpretasikan sudut pandang anak bungsu dan orang tua. Novel ini menggambarkan konflik antar saudara yang sering kali kita alami. Dari novel-novel Tere Liye yang telah saya baca, salah satu keunggulan Tere Liye dalam menulis adalah gaya bahasanya. Tere Liye menggunakan gaya bahasa yang sederhana namun bermakna. Membaca novel ini seperti terbawa oleh air yang mengalir. Namun, untuk konflik yang dihadirkan dalam novel ini, saya merasa konflik diawal lebih mengigit. Bukan berarti konflik yang dihadirkan setelahnya tidak bagus. Hanya saja secara personal emosi saya sudah diombang-ambing di awal cerita.

Narasi di bawah merupakan salah satu narasi yang mampu menghadirkan tetes mata saat membaca novel ini.

Tidak akan ada yang menahan anak bungsu Mamak. Kau pergilah, Amel. Jangan pikirkan hal-hal yang tidak perlu kau pikirkan. Doa Mamak menyertaimu nak.

Novel ini recomended buat kamu si anak bungsu yang selalu dipandang sebagai anak kecil. Buat anak bungsu pasti bakal relate sama kisah Amel. Buku ini dikemas dengan baik oleh penulis. Banyak pembelajaran hidup yang dapat kita petik. Tentang kegigihan, tentang keberanian, dan tentang hati yang tulus membantu sekitar.



#ReviewBuku

2 comments